Resensi Buku “Asih”

  • Detail buku:

Judul buku: Asih

Pengarang: Risa Saraswati

Penerbit: Kawah Media

Halaman: 192 halaman

Berat: 0,2 kg

Bahasa: Indonesia

Tahun rilis: 2017

Genre buku: Horor

  • Sinopsis:

Asih. Dia mulai dikenal lewat novel dan film berjudul “Danur”. Pembuat dari film Danur juga sama, Risa Saraswati. Memang Risa terkenal dengan cerita mistisnya karena ia merupakan orang yang bisa melihat hantu.

Kasih. Itulah nama aslinya. ‘Kasih’ menjadi nama yang terlalu indah untuk si wajah kaku tanpa senyuman itu. Tidak tahu mengapa semua orang memanggilnya dengan sebutan Asih. Saat dia kecil, dia hanya tinggal di sebuah desa bernama Desa Sukaraja. Tahun ke tahun dia semakin beranjak dewasa. Saat dia mulai tumbuh dewasa, Asih memutuskan untuk merantau ke kota besar. Asih rela meninggalkan kedua orangtua dan adik-adiknya demi membantu perekonomian keluarganya. Tujuannya adalah pergi ke Kota Bandung. Menurutnya, kota dengan julukan “kota kembang” ini adalah yang terbaik untuknya. Dia pikir, dia bisa bekerja di kota besar dengan jabatan yang bagus. Nyatanya, dia hanya menjadi seorang asisten rumah tangga saat di Bandung. Dia bekerja di sebuah rumah yang terletak di kawasan perumahan. Yang paling mengerikan dari cerita seorang Asih adalah kematiannya yang dipikir sangat tidak wajar. Dia ditemukan telah meninggal di kamarnya karena gantung diri. Mau tahu penyebab kematiannya? Maka dari itu belilah buku “Asih” di toko buku terdekat.

Advertisements

Berkunjung ke kantor kelurahan

Althaf dan teman-teman berkunjung ke kantor Kelurahan Kebon Jayanti

Bandung – Pada hari selasa (28/8/2018) yang lalu, saya (Althaf) dan teman-teman saya berkunjung ke kantor Kelurahan Kebon Jayanti, Kiaracondong, Bandung. Hal itu yang paling menarik menurut saya selama perjalanan kecil yang dilaksanakan pada hari selasa itu. Mengapa hal itu menarik bagi saya? Hal itu menarik bagi saya karena saya mendapat banyak hal baru saat di sana. Kami semua pergi ke kantor kelurahan tanpa didampingi oleh kakak (sebutan guru di sekolah saya). Kami yang tidak tahu apa-apa memberanikan diri untuk masuk ke dalam kantor dan bertemu lurah di sana. Lurah tersebut bertanya-tanya kepada kami karena sebelum itu belum ada kontak dengan kelurahan tersebut untuk mengadakan pertemuan. Lurah tersebut bertanya kepada kami tujuan dari kami datang ke sana. Kami pun menjawab semampu kami. Setelah itu, kami mengadakan sesi tanya jawab dengan lurah tersebut. Lurah tersebut bernama Abdul Manaf. Pak Abdul Manaf bercerita panjang tentang sejarah stasiun kereta api Kiaracondong dan GKJ. GKJ adalah singkatan dari Gereja Kristen Jawa. GKJ adalah tujuan kami selanjutnya.

Tidak lama setelah selesai sesi tanya jawab, Kak Imeh (guru kami) akhirnya datang ke aula tempat kami berkumpul. Saat bertemu pak lurah Kak Imeh berkata, “saya guru dari anak-anak pak”. Lega rasanya saat Kak Imeh datang ke aula tersebut. Tidak lama kemudian, kami pun berpamitan dan meminta izin untuk pergi GKJ dan bertemu dengan Pak Yohan, pendeta di gereja tersebut.

Resensi Cerpen “Di Balik Sebuah Tawa”

  • Data Cerpen

Judul: Di Balik Sebuah Tawa

Pengarang: Dwi Rezki Fauziah

Penerbit: Media Indonesia

Tebal halaman (dalam kertas A4): 3 halaman

Tokoh:

-Bapak           -Isteri/Ibu

-Lilis               -Anak bungsu

  • Sinopsis

Cerita pendek (cerpen) ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang berkehidupan kurang mampu. Sang kepala keluarga atau sang bapak hanya bekerja sebagai tukang sampah di salah satu sekolah di Indonesia. Beliau sudah bekerja selama 5 tahun bahkan sebelum sekolah itu didirikan tiga tahun yang lalu. Karena mereka adalah keluarga kurang mampu, mereka hanya bisa mempunyai barang baru seperti pakaian, mainan, buku, dan barang lainnya dari barang bekas yang mereka temui di tempat sampah yang menurut mereka masih layak pakai. Tapi, semua anggota keluarga tersebut menerima kenyataan dan tidak memaksa untuk dibelikan barang baru walaupun anak pertama di keluarga tersebut sering diejek oleh temannya karena pekerjaan bapaknya yang hanya menjadi tukang sampah. Berkali-kali sang bapak menemukan barang bekas yang masih sangat layak pakai. Suatu hari sang bapak dan lilis (anak pertamanya) memakai pakaian yang sama. Pakaian itu berwarna merah marun dan ada tulisan Social One di bagian depan baju tersebut. Mereka pergi ke tempat masing-masing. Saat si bapak sampai di sekolah (tempat kerjanya), sang bapak merasa aneh karena banyak anak-anak sekolah yang menertawakannya. Saat si bapak sampai di rumah, tiba-tiba Lilis datang dengan setengah berlari. Sang bapak yang tidak tahu apa-apa melihat Lilis mengusap pipinya dan beliau menjadi tahu bahwa anaknya sedang menangis. Sang bapak bertanya-tanya, mengapa Lilis tiba-tiba menangis tanpa sebab. Lilis tidak menjawab pertanyaan tersebut. Sang bapak akhirnya datang ke kamar dan Lilis langsung membuka bajunya  dan mengatakan kalau baju bekas yang ia pakai adalah baju kakak teman sekelompok Lilis yang sekolah di asrama itu. Lilis merasa malu dan marah kepada bapaknya.

 

  • Kelebihan dan Kekurangan

Kelebihan: Cerpen tersebut mudah dipahami dan mudah dibayangkan oleh pembaca

Kekurangan: Cerpen tersebut lebih banyak menceritakan tentang kesedihan daripada kebahagiaan.

  • Ulasan

Jika kita hidup kurang mampu, kita harus menerima kenyataan dan harus terus bersabar. Selalu bersyukur atas apa yang Tuhan telah berikan

Perjalanan ke Gua Pawon

Pada hari Selasa lalu tepatnya pada tanggal 23 Januari 2018, saya, teman-teman saya, dan 2 guru saya mengunjungi sebuah gua yang ada di daerah Padalarang, yaitu Gua Pawon. Kami pergi menggunakan kereta api. Setelah sampai di stasiun yang ada di Padalarang, kami pun langsung mencari Angkutan Kota (Angkot) dengan berjalan kaki ke tempat pangkalan angkot. Setelah mendapatkan angkot, kami langsung pergi ke Gua Pawon.

Sesampainya di Gua Pawon, kami pun beristirahat sebentar. Tidak lama kemudian, datanglah Pak Hendi yang merupakan tourguide disana bagi para pengunjung yang datang. Kami pun ditemani oleh Pak Hendi saat memasuki Gua Pawon. Saat memasuki gua, saya melihat banyak kelelawar yang berterbangan di bagian atas gua, juga tercium aroma tidak sedap yang merupakan bau kotoran kelelawar karena kotoran itu terkena air hujan dan menjadi lembab. Saya dan teman-teman pun tidak kuat dengan baunya yang sangat tidak sedap. Namun, mau tidak mau kami terpaksa tetap menyusuri gua tersebut. Tidak lama kemudian, kami melihat ada beberapa replika dari fosil yang ditemukan di Gua Pawon. Salah satu contohnya adalah replika fosil manusia purba. Walaupun hanya replika, namun benda tersebut sangat mirip dengan aslinya. Saya pun sangat kagum dengan pembuatnya.

Kemudian, Pak Hendi menjelaskan tentang asal-muasal dari Gua Pawon dan kerangka fosil dengan sangat detail, baik, dan benar. Selama Pak Hendi menjelaskan, saya sangat kagum dengan masa pra-sejarah kala itu. Setelah Pak Hendi selesai menjelaskan, saya dan teman-teman menanyakan apa yang ingin ditanyakan kepada Pak Hendi tentang Gua Pawon.

Saya pun menjadi banyak tahu tentang sejarah dari Gua Pawon tersebut. Menurut apa yang saya amati, persamaan kehidupan sosial di masa pra-sejarah dengan masa kini adalah dari dulu sampai sekarang, manusia selalu hidup berdampingan dan berkelompok. Tidak hidup sendiri dan melakukan segala hal sendiri. Banyak juga peristiwa zaman dahulu yang mempengaruhi kondisi Kota Bandung saat ini. Salah satu contohnya adalah peristiwa jebol-nya bendungan danau Bandung purba. Saat bendungannya jebol, air di danau Bandung purba tersebut surut dan lama kelamaan menjadi sebuah daratan. Dan sampai sekarang yang masih tersisa dari kejadian itu adalah Gua Pawon dan Stone Garden. Banyak peninggalan zaman dulu yang terdapat di sana. Salah satunya adalah batu-batu besar yang ada di Stone Garden.

Setelah saya mengunjungi Gua Pawon dan Stone Garden, saya pun mendapat beberapa pelajaran dari sana. Contohnya yaitu tuhan memberikan keindahan, kesenangan, dan lain-lain untuk kita. Jadi, pesan saya untuk semua masyarakat dunia adalah selalu menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah dunia. Dan jangan lupa selalu bersyukur atas apa yang sudah diberikan oleh Tuhan YME. Terima kasih sudah mau membacanya!

Resensi Film Before the Flood (Natgeo)

Data Film

Sutradara:

  • Fisher Stevens

Produser:

  • Fisher Stevens
  • Leonardo DiCaprio
  • Jennifer Davisson Killoran
  • James Packer
  • Brett Ratner
  • Trevor Davidoski

Eksekutif Produser:

  • Martin Scorsese

Musik:

  • Gustavo Santaolalla
  • Trent Reznor
  • Atticus Ross
  • Mogwai

Pemeran:

  • Leonardo DiCaprio
  • Barack Obama
  • Pope Francis
  • Sunita Narain
  • Anote Inarritu
  • Piers Sellers
  • Johan Rockstrom

Distributor Film

  • National Geographic
  • Tanggal rilis: 21 Oktober 2016
  • Durasi Film: 96 menit
  • Negara: Amerika Serikat
  • Bahasa: Inggris

Ulasan

Before the Flood adalah film dokumenter dari Amerika Serikat. Film ini di produksi pada tahun 2016 tepatnya pada tanggal 21 Oktober 2016. Film ini bercerita tentang perubahan musim. Film ini di sutradarai oleh Fisher Stevens. Film ini diproduseri oleh 6 orang. 2 orang diantaranya adalah Brett Ratner dan James Packer. Eksekutif produser dari film ini adalah Martin Scorsese. Film ini berdurasi sekitar 96 menit. Dan film ini berbahsa Inggris.

Film ini menceritakan tentang keadaan negara-negara dunia yang mengalami perubahan musim, termasuk di indonesia. Es yang ada di kutub utara dan selatan makin lama akan meleleh. Hal itu disebabkan oleh adanya pemanasan global (Global Warming). Di daerah timur tengah juga terjadi kekeringan. Karena hal itu, banyak manusia yang meninggal dan hewan banyak yang mati.

Menurut saya, film ini sangat beranfaat bagi semua orang karena orang-orang yang sudah menonton ini bisa lebih menjaga lingkungan dengan baik lagi dan bisa mengungkapkan rasa empatinya seperti menolong orang yang terkena musibah dengan cara pergi ke tempat pengungsiannya langsung, menghibur korbannnya, memberi makan korban, dan masih banyak lainnya. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa film ini sangat bermanfaat bagi semua orang.