Perjalanan ke Gua Pawon

Pada hari Selasa lalu tepatnya pada tanggal 23 Januari 2018, saya, teman-teman saya, dan 2 guru saya mengunjungi sebuah gua yang ada di daerah Padalarang, yaitu Gua Pawon. Kami pergi menggunakan kereta api. Setelah sampai di stasiun yang ada di Padalarang, kami pun langsung mencari Angkutan Kota (Angkot) dengan berjalan kaki ke tempat pangkalan angkot. Setelah mendapatkan angkot, kami langsung pergi ke Gua Pawon.

Sesampainya di Gua Pawon, kami pun beristirahat sebentar. Tidak lama kemudian, datanglah Pak Hendi yang merupakan tourguide disana bagi para pengunjung yang datang. Kami pun ditemani oleh Pak Hendi saat memasuki Gua Pawon. Saat memasuki gua, saya melihat banyak kelelawar yang berterbangan di bagian atas gua, juga tercium aroma tidak sedap yang merupakan bau kotoran kelelawar karena kotoran itu terkena air hujan dan menjadi lembab. Saya dan teman-teman pun tidak kuat dengan baunya yang sangat tidak sedap. Namun, mau tidak mau kami terpaksa tetap menyusuri gua tersebut. Tidak lama kemudian, kami melihat ada beberapa replika dari fosil yang ditemukan di Gua Pawon. Salah satu contohnya adalah replika fosil manusia purba. Walaupun hanya replika, namun benda tersebut sangat mirip dengan aslinya. Saya pun sangat kagum dengan pembuatnya.

Kemudian, Pak Hendi menjelaskan tentang asal-muasal dari Gua Pawon dan kerangka fosil dengan sangat detail, baik, dan benar. Selama Pak Hendi menjelaskan, saya sangat kagum dengan masa pra-sejarah kala itu. Setelah Pak Hendi selesai menjelaskan, saya dan teman-teman menanyakan apa yang ingin ditanyakan kepada Pak Hendi tentang Gua Pawon.

Saya pun menjadi banyak tahu tentang sejarah dari Gua Pawon tersebut. Menurut apa yang saya amati, persamaan kehidupan sosial di masa pra-sejarah dengan masa kini adalah dari dulu sampai sekarang, manusia selalu hidup berdampingan dan berkelompok. Tidak hidup sendiri dan melakukan segala hal sendiri. Banyak juga peristiwa zaman dahulu yang mempengaruhi kondisi Kota Bandung saat ini. Salah satu contohnya adalah peristiwa jebol-nya bendungan danau Bandung purba. Saat bendungannya jebol, air di danau Bandung purba tersebut surut dan lama kelamaan menjadi sebuah daratan. Dan sampai sekarang yang masih tersisa dari kejadian itu adalah Gua Pawon dan Stone Garden. Banyak peninggalan zaman dulu yang terdapat di sana. Salah satunya adalah batu-batu besar yang ada di Stone Garden.

Setelah saya mengunjungi Gua Pawon dan Stone Garden, saya pun mendapat beberapa pelajaran dari sana. Contohnya yaitu tuhan memberikan keindahan, kesenangan, dan lain-lain untuk kita. Jadi, pesan saya untuk semua masyarakat dunia adalah selalu menjaga dan melestarikan peninggalan bersejarah dunia. Dan jangan lupa selalu bersyukur atas apa yang sudah diberikan oleh Tuhan YME. Terima kasih sudah mau membacanya!

Advertisements

Resensi Film Before the Flood (Natgeo)

Data Film

Sutradara:

  • Fisher Stevens

Produser:

  • Fisher Stevens
  • Leonardo DiCaprio
  • Jennifer Davisson Killoran
  • James Packer
  • Brett Ratner
  • Trevor Davidoski

Eksekutif Produser:

  • Martin Scorsese

Musik:

  • Gustavo Santaolalla
  • Trent Reznor
  • Atticus Ross
  • Mogwai

Pemeran:

  • Leonardo DiCaprio
  • Barack Obama
  • Pope Francis
  • Sunita Narain
  • Anote Inarritu
  • Piers Sellers
  • Johan Rockstrom

Distributor Film

  • National Geographic
  • Tanggal rilis: 21 Oktober 2016
  • Durasi Film: 96 menit
  • Negara: Amerika Serikat
  • Bahasa: Inggris

Ulasan

Before the Flood adalah film dokumenter dari Amerika Serikat. Film ini di produksi pada tahun 2016 tepatnya pada tanggal 21 Oktober 2016. Film ini bercerita tentang perubahan musim. Film ini di sutradarai oleh Fisher Stevens. Film ini diproduseri oleh 6 orang. 2 orang diantaranya adalah Brett Ratner dan James Packer. Eksekutif produser dari film ini adalah Martin Scorsese. Film ini berdurasi sekitar 96 menit. Dan film ini berbahsa Inggris.

Film ini menceritakan tentang keadaan negara-negara dunia yang mengalami perubahan musim, termasuk di indonesia. Es yang ada di kutub utara dan selatan makin lama akan meleleh. Hal itu disebabkan oleh adanya pemanasan global (Global Warming). Di daerah timur tengah juga terjadi kekeringan. Karena hal itu, banyak manusia yang meninggal dan hewan banyak yang mati.

Menurut saya, film ini sangat beranfaat bagi semua orang karena orang-orang yang sudah menonton ini bisa lebih menjaga lingkungan dengan baik lagi dan bisa mengungkapkan rasa empatinya seperti menolong orang yang terkena musibah dengan cara pergi ke tempat pengungsiannya langsung, menghibur korbannnya, memberi makan korban, dan masih banyak lainnya. Itulah mengapa saya mengatakan bahwa film ini sangat bermanfaat bagi semua orang.